MUḤKAM-MUTASYĀBIH Tafsir Muḥammad ʻĀbid al-Jābirī atas Surah Āli ‘Imrān/3: 7

  • Mohamad Yahya

Abstrak

Fokus artikel ini adalah penafsiran M. ʻĀbid al-Jābirī terhadap konsep muḥkam-mutasyābih dalam Surah Āli ʻImrān/3: 7. Topik tersebut dianggap penting karena memiliki implikasi teoretis ke beragam persoalan. Alasan pemilihan al-Jābirī karena konsistensinya dalam penggunaan seperangkat metodologi, yakni kritik sejarah dan analisis struktural. Simpulan yang dicapai dari artikel ini adalah bahwa āyat bagi al-Jābirī bermakna tanda. Āyat muḥkamah adalah tanda, indikator, atau realitas kauniyyah yang menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa, sementara āyat mutasyābihah adalah tanda yang Allah kehendaki untuk menetapkan sesuatu di luar kebiasaan bagi para nabi dan rasul-Nya sebagai bukti kenabian-Nya. Adapun ar-rāsikhūn adalah intelektual yang mendalam secara keilmuan, dan mereka dapat mengetahui penakwilan ayat mutasyābih. Dengan demikian, tidak ada ayat muḥkam dan ayat mutasyabih dalam pengertian yang selama ini dipakai, yakni ayat yang jelas dan ambigu. Semua ayat Al-Qur’an sangat jelas dan dapat dipahami maksudnya oleh masyarakat sasaran dakwah saat itu.
 
Kata Kunci
Al-Jābirī, āyat, muḥkam, mutasyābih.
Diterbitkan
2017-09-08
Bagaimana cara menyitir
YAHYA, Mohamad. MUḤKAM-MUTASYĀBIH Tafsir Muḥammad ʻĀbid al-Jābirī atas Surah Āli ‘Imrān/3: 7. SUHUF Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya, [S.l.], v. 10, n. 1, p. 59 - 75, sep. 2017. ISSN 2548-6942. Tersedia pada: <http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/251>. Tanggal Akses: 23 sep. 2017 doi: https://doi.org/10.22548/shf.v10i1.251.
Bagian
Artikel