https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/issue/feed SUHUF 2026-07-22T02:31:53+00:00 Zainal Arifin Madzkur jurnalsuhuf@gmail.com Open Journal Systems <p><a title="Akreditasi Suhuf" href="https://drive.google.com/file/d/12b8rghQ2MAkc9RNl0FknzadNHIE3DoC-/view?usp=drivesdk">Sinta 3</a></p> <p align="left">Suhuf Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya (ISSN 1979-6544; e-ISSN 2548-6942) diterbitkan oleh <strong><a title="Lajnah Pentahihan Mushaf Al-Qur'an" href="http://lajnah.kemenag.go.id" target="_blank" rel="noopener">Lajnah Pentahihan Mushaf Al-Qur'an</a></strong>, Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kementerian Agama Republik Indonesia. Pertama kali terbit pada tahun 2008, menyebarluaskan hasil pengkajian dan penelitian mengenai Al-Qur'an, meliputi mushaf, terjemahan, tafsir, <em>rasm</em>, <em>qira'at</em>, serta ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya. Jurnal ini memberikan perhatian khusus terhadap kajian Al-Qur'an di Indonesia dan Asia Tenggara.</p> <p align="left">SUHUF&nbsp;terakreditasi oleh Akreditasi Jurnal Nasional (ARJUNA) No. 177/E/KPT/2024<strong>&nbsp;(<a href="https://drive.google.com/open?id=12b8rghQ2MAkc9RNl0FknzadNHIE3DoC-&amp;usp=drive_fs">Sinta 3</a>)</strong>. Terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember dalam bentuk elektronik dan cetakan. SUHUF mengundang para peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati Al-Qur'an untuk menerbitkan tulisannya di sini.&nbsp;</p> https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1359 Antara Linguistik dan Hukum Islam 2026-06-15T05:10:50+00:00 Hizbia Qurani kuranihzbiye@gmail.com Solehodin Solehodin solahaddin518@gmail.com Kahfi Ya Kahfi yakahfikahfi@gmail.com <p>Keragaman <em>qiraʾat</em> Al-Qur’an memiliki implikasi semantik dan interpretatif yang penting dalam studi <em>tafsir</em>, khususnya pada ayat-ayat yang berkaitan dengan etika gender dan norma hukum perempuan. Penelitian ini menganalisis varian bacaan lafaz <em>qarna</em> dan <em>qirna</em> dalam Surah al-Ahzab (33): 33 serta pengaruhnya terhadap perbedaan penafsiran Ibn ʿAtiyyah (w. 546 H/1151 M) dan al-Qurtubiy (w. 671 H/1273 M). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan, dengan sumber primer berupa <em>al-Muharrar al-Wajiz</em> karya Ibn ʿAtiyyah dan <em>al-Jami'li-Ahkam al-Qurʾan</em> karya al-Qurtubiy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn ʿAtiyyah cenderung memprioritaskan bacaan <em>qirna</em> karena dinilai lebih kuat dari segi transmisi dan lebih fasih secara kebahasaan. Penafsirannya menekankan etika ketenangan, kehormatan, dan martabat perempuan, dengan kecenderungan membatasi implikasi hukum ayat tersebut terutama pada <em>Ahl al-Bait</em>. Sebaliknya, al-Qurtubiy menunjukkan sikap yang lebih inklusif terhadap kedua bacaan dan mengembangkan penafsiran yang lebih normatif serta protektif, terutama terkait kehadiran perempuan di ruang publik dan moralitas sosial. Perbedaan ini tidak hanya dipengaruhi oleh pilihan metodologis, tetapi juga oleh jaringan keilmuan, orientasi epistemologis, serta konteks sosial-politik yang melatarbelakangi keduanya. Ibn ʿAtiyyah, yang hidup dalam lingkungan Andalusia yang relatif stabil dan berorientasi linguistik, menghasilkan tafsir yang lebih selektif dan deskriptif. Sementara itu, al-Qurtubiy, yang hidup dalam situasi sosial-politik yang lebih dinamis dan berorientasi fikih, menghasilkan tafsir yang lebih luas, argumentatif, dan normatif. Studi ini menegaskan bahwa <em>tafsir</em> Al-Qur’an bukan semata-mata produk tekstual, melainkan juga proses intelektual yang terbentuk dalam konteks historis dan sosial tertentu.</p> 2026-06-11T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1462 Dialog Lintas Agama dalam Tafsir Mafatih Al-Gaib Karya Fakhr Ad-Din Ar-Raziy 2026-06-15T05:15:48+00:00 Muhammad Syahran muhammadsyahran@stainmajene.ac.id Muhammad Zakir Husain zakir.husain@unissa.edu.bn Ashabul Kahfi Dainur ashabulkahfi284@gmail.com <p><em>Penelitian ini menguji asumsi bahwa </em>Mafatih al-Gaib<em> karya ar-Raziy mengandung dialog lintas agama yang moderat dan implementatif sebagai penguat moderasi beragama di Indonesia. Penelitian kualitatif ini menjadikan </em>Mafatih al-Gaib<em> sebagai obyek utama penelitian pustaka dengan menjadikan Nasrani sebagai data pokok. Ayat-ayat terkait Nasrani dalam ranah sosial diambil dari isu-isu sensitif di Indonesia. Analisis rekontekstualisasi semiotika sinkronis-diakronis dihubungkan dengan moderasi beragama Kemenag RI. Hasilnya memperlihatkan narasi-narasi moderat dalam tafsir dialogis </em>Mafatih al-Gaib<em> yang mencakup: 1) boleh nonmuslim masuk masjid, 2) boleh memulai atau menjawab salam nonmuslim, 3) dan boleh mengangkat pemimpin nonmuslim. Pola tafsir dialogisnya mencakup argumen pro, kontra, dan moderat terhadap tiga hasil temuan. Hasil pertama merefleksikan relevansi moderat pada pilar komitmen kebangsaan dan toleransi. Hasil kedua pada toleransi dan akomodatif terhadap budaya lokal. Hasil ketiga pada toleransi dan anti kekerasan. Hasilnya berkontribusi sebagai penguat kurikulum moderasi beragama di perguruan tinggi, madrasah, dan sekolah, serta bahan dakwah dan penyuluhan keagamaan.</em></p> 2026-06-11T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1463 Ekoteologi dalam Tafsir Ayat-Ayat Ekologi Kementerian Agama Republik Indonesia 2026-06-23T05:22:57+00:00 M Badruz Zaman 23090290033@student.walisongo.ac.id Achmad Azis Abidin abiedquotes@walisongo.ac.id Ida Lailatin idalailatin96@gmail.com Muhammad Nahjul Fikri nahjul.fikri04@gmail.com Ahmad Nashrullah ahmad.nashrullah@anu.edu.au <p><em>Di tengah meningkatnya krisis ekologi global, wacana keagamaan semakin diharapkan mampu memberikan landasan etis dan teologis bagi tanggung jawab terhadap lingkungan. Artikel ini mengkaji Tafsir Ayat-Ayat Ekologi sebagai upaya awal yang penting dalam membangun paradigma eko-teologi Islam yang koheren. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutika kualitatif, penelitian ini menganalisis bagaimana tafsir tersebut secara sistematis menafsirkan kembali konsep-konsep utama Al-Qur’an—taskhir, tawhid, khalifah–amanah, dan mizan–anti-fasad—ke dalam kerangka etika ekologi yang berlandaskan teologi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tafsir ini berhasil menjembatani tradisi tafsir klasik dengan persoalan ekologi kontemporer, sekaligus menggeser cara pandang antroposentris menuju paradigma teo-antroposentris yang berakar pada pertanggungjawaban kepada Tuhan dan pengendalian diri secara ekologis. Penelitian ini berkontribusi pada perumusan “hermeneutika ekologi Islam” yang otoritatif dan berakar pada pengalaman Muslim Indonesia. Selain itu, tafsir ini menempatkan otoritas keagamaan sebagai agen moral dalam menghadapi krisis planet dengan memberikan legitimasi normatif bagi transformasi hijau di berbagai sektor. Namun demikian, dampak transformatifnya sangat bergantung pada penerjemahan institusional yang efektif ke dalam kebijakan publik, pendidikan, dan norma keagamaan. Dengan demikian, tafsir ini menawarkan jalan yang kompleks, tetapi menjanjikan, untuk menanamkan etika ekologi dalam ruang publik Islam di Indonesia dan bahkan di tingkat yang lebih luas.</em></p> 2026-06-11T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1480 Penerjemahan Uslub al-Hazf dalam Terjemahan Al-Qur’an Berbahasa Indonesia 2026-06-23T05:16:01+00:00 Zakiyatun Najwa zkyynjw2244@gmail.com Khobirul Amru khobirul.amru@uinsa.ac.id Nor Fatihah Izzati 079244@putra.unisza.edu.my <p><em>Artikel ini mengkaji penerapan uṣlub al-hazf dalam dua terjemahan Al-Qur’an berbahasa Indonesia, yaitu </em>Al-Qur’an dan Terjemahannya<em> Edisi Revisi 2019 yang disusun Kementerian Agama dan </em>Al-Qur’an dan Maknanya<em> karya Quraish Shihab. Kedua karya tersebut merepresentasikan strategi yang berbeda dalam menerjemahkan ungkapan-ungkapan Arab ke dalam bahasa Indonesia, yang pada gilirannya memengaruhi persoalan penerjemahan dan pemahaman pembaca terhadap makna Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, dengan menjadikan kedua terjemahan tersebut sebagai sumber utama dan menganalisisnya melalui perspektif ilmu balagah dan teori penerjemahan. Temuan penelitian menunjukkan dua model utama penerjemahan dalam menangani al-hazf, yaitu: (1) akomodasi terhadap penghilangan, dan (2) non-akomodasi terhadap penghilangan. Secara umum, </em>Al-Qur’an dan Maknanya<em> karya Quraish Shihab dinilai lebih responsif terhadap dimensi retoris balagah, khususnya dalam mempertahankan al-hazf, dibandingkan dengan </em>Al-Qur’an dan Terjemahannya<em> Kementerian Agama tahun 2019. Perbedaan strategi ini memengaruhi pembentukan makna, arah penafsiran, dan keterlibatan pembaca dengan pesan keagamaan, yang menunjukkan bahwa keberhasilan penerjemahan tidak hanya menuntut kepekaan semantis, tetapi juga kepekaan retoris.</em></p> 2026-06-11T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1483 Materiality and Transmission of Qur’anic Exegesis in Nineteenth-Century Java 2026-06-15T05:44:33+00:00 Iftitari Itsna Syayyidah iftitariitsna@gmail.com Ahmad Zaidanil Kamil ahmad.zaidanil@uinsa.ac.id Jazilatul Atiyah Abdur Rouf jazilatulatiyah@gmail.com <p><em>Penelitian ini mengkaji aspek kodikologis manuskrip </em>Tafsir al-Jalalayn<em> yang disalin oleh KH. Sholih Tsani, salah satu ulama dalam tradisi keilmuan Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah Gresik. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi karakter material naskah, pola penyalinan, unsur parateks, serta konteks historis penyusunannya. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitik melalui observasi langsung terhadap manuskrip, studi kepustakaan, dan wawancara dengan sejarawan lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manuskrip ditulis di atas kertas Eropa berciri watermark, menggunakan khat Naskhi, dengan tinta merah untuk ayat Al-Qur’an dan tinta hitam untuk teks tafsir. Unsur parateks seperti catatan marginal, simbol rujukan, koreksi, catchword, dan kolofon ditemukan secara konsisten. Kolofon mencatat penyelesaian penyalinan pada 14 Ramadhan 1279 H (5 Maret 1863 M). Penelitian ini menghadirkan kebaruan melalui pendekatan terpadu yang menggabungkan analisis kodikologi, tekstologi, dan parateks serta mengaitkannya dengan jaringan sanad Haramain-Hadramaut, sehingga manuskrip dipahami sebagai medium transmisi dan legitimasi keilmuan dalam tradisi pesantren.</em></p> 2026-06-11T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1494 Transmisi Qira’at dalam Manuskrip Al-Qur’an Sinjai 2026-06-15T06:02:22+00:00 Hana Maulydiah hanamaulydiah@mhs.iiq.ac.id Romlah Widayati romlah@iiq.ac.id Salma Kamilah Putri Kamilahsalma965@gmail.com <p><em>Penelitian ini mengkaji penerapan </em>qira’at<em> dalam mushaf kuno Sinjai dengan menitikberatkan pada kaidah-kaidah </em>qira’at<em> dalam perspektif </em>tariq<em> asy-Syatibiyyah. Objek kajian adalah Mushaf Kuno Syaikh Abdul Majid, khususnya keterangan </em>qira’at<em> yang tercantum pada pias mushaf. </em><em>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penerapan </em>qira’at<em> serta menilai konsistensi penggunaan riwayat </em>qira’at<em> yang direpresentasikan dalam mushaf tersebut. Kajian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya penelitian mushaf kuno di Nusantara yang secara khusus menempatkan ilmu </em>qira’at<em> sebagai fokus utama kajian akademik, sehingga penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khazanah studi mushaf kuno dari perspektif keilmuan Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer penelitian ialah </em><em>mushaf</em><em> kuno Sinjai dan kitab-kitab syarah dari kitab qira’at milik Imam asy-Syatibiy (w. 1388 M). </em><em>Hasil penelitian </em><em>dalam aspek </em>qira’at<em> menunjukkan bahwa dalam juz 30 Mushaf Syaikh Abdul Majid ditemukan terdapat 46 kata pada pias mushaf yang mengandung ikhtilaf </em>qira’at<em>, baik ikhtilaf yang termasuk kaidah </em>usuliyyah<em> maupun kaidah </em>farsy al-huruf<em>. </em><em>Adapun </em><em>qira’at pada pias Mushaf Syaikh Abdul Majid secara konsisten menggunakan </em>al-qira’at as-sab’<em>. Sekalipun penyajian </em>qira’at<em> pada pias mushaf tersebut dapat dikategorikan cukup ringkas. Hal ini disebabkan </em>qira’at<em> yang ditampilkan pada pias mushaf hanya sebagian dari keseluruhan qira’at yang mungkin dapat ditampilkan.</em></p> 2026-06-11T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1514 Diskursus dan Otoritas dalam Penggunaan Isra’iliyyat 2026-06-15T06:02:22+00:00 Muhammad Ulil Albab Aziz ulilalbabas247@gmail.com Muhammad Haidar Syauqi Adnan haidarsyauqi313@gmail.com <p><em>Artikel ini menganalisis konstruksi otoritas wacana dalam penyikapan terhadap isra’iliyyat melalui perbandingan penafsiran surah Al-A‘raf (7) :157 dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azim karya Ibn Kasir dan Al-Qur’an dan Tafsirnya karya Kementerian Agama RI. Dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough, penelitian ini mengkritik konsep otoritas tafsir klasik yang hanya bertumpu pada transmisi sanad. Hasil kajian menunjukkan bahwa Ibn Kasir membangun otoritas melalui metode tafsir bil-ma’sur yang ketat, dengan menyaring isra’iliyyat berdasarkan kesesuaiannya dengan Al-Qur’an, hadis, dan kekuatan sanad. Sementara itu, Kementerian Agama membangun otoritas melalui pendekatan tahliliy ijtima’iy yang menyesuaikan makna ayat dengan konteks sosial Indonesia serta nilai Pancasila. Dengan demikian, otoritas tafsir dipahami sebagai konstruksi dinamis yang lahir dari interaksi antara prinsip keilmuan, konteks sosial-historis, dan kepentingan ideologis.</em></p> 2026-06-12T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1533 Tanda-Tanda Waqf dalam Tradisi Mushaf Al-Qur’an Cetakan Asia Selatan 2026-06-22T09:35:20+00:00 Nurhikmatul Maulia nurhikmatulmaulia98@gmail.com Ahmad Fathoni ahmadfathoni@iiq.ac.id Ziyad Ulhaq ziyad.ulhaq@iiq.ac.id Safri Ilman safrieielman@gmail.com Lukman Nur Hakim lukman.hakim120892@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan tanda wakaf yang dimiliki mushaf Karachi dan mushaf Bombay beserta penjelasannya. Klasifikasi pengelompokannya digunakan berdasarkan dua macam wakaf, yakni wakaf <em>qiyasiy</em> (ijtihad ulama), dan wakaf <em>sima‘iy</em> (<em>talaqqiy </em>dengan guru). Hal ini bisa diketahui dengan menganalisis tanda wakaf yang berada di dalam bingkai mushaf (wakaf <em>qiyasiy</em>) dan di luar bingkai mushaf Al-Qur`an (wakaf <em>sima‘iy</em>). Metode yang digunakan melalui kajian pustaka (<em>Library Research)</em> dan bersifat kualitatif dengan pendekatan historis (<em>Historical Research), </em>filologi, dan ilmu <em>al-Waqf wa al-Ibtida`. </em>Data primernya menggunakan mushaf Karachi yang diterbitkan oleh Taj Company, Karachi, Pakistan, tahun 2012 M dan mushaf Bombay yang diterbitkan oleh PT. Toha Putera, Semarang, tahun 1985 M.&nbsp; Hasil penelitian menyimpulkan bahwa mushaf Bombay dan mushaf Karachi merupakan dua mushaf yang berbeda. Penggunaan tanda wakaf pada kedua mushaf memiliki persamaan dan perbedaan yang meliputi: <em>pertama, </em>tanda wakaf yang digunakan, Mushaf Karachi dan mushaf Bombay memiliki 13 tanda wakaf <em>qiyasiy</em> dan 4 tanda wakaf <em>sima‘iy</em> dengan beberapa perbedaan, <em>kedua, </em>jumlah tanda wakaf dan tempatnya, Mushaf Karachi memiliki 657 tanda wakaf <em>qiyasiy</em> dan 36 tanda wakaf <em>sima‘iy</em>, sedangkan mushaf Bombay memiliki 640 tanda wakaf <em>qiyasiy</em> dan 35 tanda wakaf <em>sima‘iy</em>, <em>ketiga, </em>metode penulisan tanda wakafnya.</p> 2026-06-22T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1534 Qira’at sebagai Perangkat Hermeneutik dalam Literatur Tafsir Indonesia 2026-06-23T08:16:15+00:00 Mutmainah Mutmainah imut@iiq.ac.id Romlah Widayati romlah@iiq.ac.id Said Agil Husin Al-Munawar saidagilhusinalmunawar@gmail.com Ahmad Syaifuddin Amin saifuddinamin.ahmad@gmail.com <p><em>Penelitian ini mengkaji kualitas ragam </em>qira’at <em>dalam literatur tafsir Indonesia dengan fokus pada penggunaan ragam </em>qira’at <em>di dalam surah Al-Baqarah. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan mufasir Nusantara yang memanfaatkan </em>qira’at<em> tidak hanya sebagai otoritas bacaan, tetapi juga sebagai instrumen interpretatif dalam memperluas makna ayat. Penelitian menggunakan metode kepustakaan (</em><em>library research</em><em>) dengan pendekatan deskriptif-analitis dan komparatif terhadap lima tafsir Nusantara lintas periode, yaitu </em><em>Tarjuman al-Mustafid</em><em>, </em><em>Tafsir al-Munir (Marah Labid)</em><em>, </em><em>Malja’ at-Talibin</em><em>, </em><em>Tafsir al-Mishbah</em><em>, dan </em><em>Firdaus an-Na‘im</em><em>. Data dianalisis melalui identifikasi, klasifikasi, dan perbandingan ragam </em>qira’at<em> berdasarkan kategori </em>mutawatirah<em> dan </em>syazzah<em> serta metode penyajiannya dalam tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa </em>qira’at mutawatirah<em> menjadi basis utama dalam seluruh tafsir yang dikaji, meskipun beberapa mufasir juga menggunakan </em>qira’at syazzah<em> untuk kepentingan linguistik, fikih, dan pengayaan makna. </em><em>Malja’ at-Talibin</em><em> merupakan tafsir yang paling konsisten menggunakan </em>qira’at mutawatirah<em>, sedangkan tafsir lainnya memperlihatkan kombinasi antara </em>mutawatirah<em> dan </em>syazzah<em> dengan tingkat intensitas berbeda. Penelitian ini menegaskan bahwa </em>qira’at<em> dalam tafsir Nusantara berfungsi sebagai perangkat hermeneutik yang mencerminkan kesinambungan transmisi keilmuan Islam global sekaligus karakter lokal tradisi tafsir Indonesia.</em></p> 2026-06-23T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1517 Lebih dari Sekadar Salinan Pasif 2026-06-30T01:50:42+00:00 Aulia Raudhatul Jannah auliaraudhtl@gmail.com Eva Nugraha eva.nugraha@uinjkt.ac.id Basyir Arif arifbasyir@isci.uez.tn <p>Penulisan mushaf Al-Qur’an di Nusantara menunjukkan keragaman ortografi yang merefleksikan dinamika tradisi keilmuan Islam lokal, terutama pada abad ke-18. Salah satu manuskrip penting dari periode ini adalah Mushaf Al-Qur’an karya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, seorang ulama terkemuka dari Kalimantan Selatan. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik ortografi Al-Qur’an dalam manuskrip tersebut serta menelaah tingkat kesesuaiannya dengan kaidah <em>rasm ‘Usmaniy</em>. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode filologi, melalui analisis deskriptif terhadap bentuk-bentuk penulisan lafaz Al-Qur’an yang meliputi kaidah <em>ḥazf, ziyadah, badal</em>, serta <em>fasl</em> dan <em>wasl</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum mushaf ini memperlihatkan kecenderungan mengikuti <em>rasm ‘Usmaniy</em>, namun pada sejumlah bagian ditemukan variasi ortografi yang dipengaruhi oleh kaidah rasm <em>imla’iy</em> dan praktik penulisan lokal. Variasi tersebut tidak hanya mencerminkan fleksibilitas dalam tradisi penyalinan mushaf di Nusantara, tetapi juga menunjukkan otoritas keilmuan penyalin dalam menyesuaikan kaidah penulisan dengan konteks lokal. Temuan ini menegaskan bahwa mushaf Nusantara abad ke-18 tidak dapat dipahami semata-mata sebagai salinan pasif dari standar Timur Tengah, melainkan sebagai produk intelektual yang hidup dalam ruang budaya dan keilmuan lokal.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1538 Kesenjangan Metodologis dalam Tafsir Mahasin Al-Ta’wil 2026-07-16T05:25:13+00:00 Melani Novita Anggraini 23040260038@student.walisongo.ac.id Hanik Rosyida hanikrosyida89@walisongo.ac.id Yusuph Dauda Gambari yusuph.dg@unilorin.edu.ng <p>Penelitian ini mengkaji konsistensi dan implikasi metodologi isra’iliyyat dalam tafsir Mahasin at-Ta’wil karya al-Qasimiy dalam konteks kontemporer, dengan menitikberatkan pada aspek konsistensi metodologis yang masih relatif jarang dikaji. Permasalahan yang diangkat adalah sejauh mana al-Qasimiy konsisten dalam menerapkan kaidah penggunaan isra’iliyyat dalam praktik penafsirannya, serta bagaimana implikasi metodologisnya terhadap perkembangan kajian tafsir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis dan analisis kritis melalui studi kepustakaan, dengan fokus amatan pada ayat-ayat kisah dalam surah Al-Kahf. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan metodologis antara teori dan praktik penafsiran. Secara konseptual, al-Qasimiy menerapkan prinsip kehati-hatian yang sangat ketat. Dalam praktiknya, ia dominan konsisten memegang kaidah tersebut dengan memberikan kritik terhadap kisah isra’iliyyat yang dikutip. Namun, ditemukan pula celah inkonsistensi saat ia bersikap longgar (mutasahil) dengan menerima kisah isra’iliyyat tanpa disertai kritik. Temuan ini membawa dua implikasi penting bagi studi tafsir masa kini. Pertama, ketajaman analisis al-Qasimiy berhasil menjaga kredibilitas karyanya sebagai salah satu rujukan utama dalam studi Al-Qur’an. Kedua, celah inkonsistensi tersebut mendorong akademisi agar tidak taklid pada suatu karya tafsir. Hal ini mendorong lahirnya pembacaan kritis menguji konsistensi antara rumusan metodologis dan hasil penafsirannya pada tataran praktis.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/suhuf/article/view/1523 Meninjau Kembali Hak-hak Penyandang Disabilitas dalam Ranah Profesional 2026-07-22T02:31:53+00:00 Mohammad Ulil Rosyad mohammad.ulil.rosyad@mhs.ptiq.ac.id Nur Rofiah nur.rofiah@staff.uinjkt.ac.id M. Darwis Hude darwis@ptiq.ac.id Dinan Kiasati dinan.kiasati@stu.hartfordinternational.edu <p>Penyandang disabilitas sering kali ditempatkan dalam paradigma medis dan karitatif, yang membatasi pengakuan mereka terhadap kemampuan mereka di lingkungan publik, termasuk di dunia kerja. Sebagai dasar konseptual untuk pemenuhan hak profesi penyandang disabilitas, artikel ini menganalisis Surah ‘Abasa (80): 1–4. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dan menerapkan Model Disabilitas Sosial-Religius (SRmD) dengan mengintegrasikan konsep ahliyyah dan maqasid asy-syari‘ah pada model sosial. Hasil temuan pada Surah ‘Abasa (80): 1-4 menunjukkan pengabaian terhadap Abdullah ibn Umm Maktum berkaitan dengan perspektif sosial yang menilai seseorang berdasarkan kondisi tubuhnya dan posisi sosialnya. Sementara frase “’abasa wa tawalla” mengkritik penolakan, “yazzakka” menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki peluang untuk berkembang, memperoleh pengetahuan, dan membuat kontribusi sosial. Oleh karena itu, menyebut “al-a‘ma” tidak berarti tidak cakap; namun itu berarti bahwa keterbatasan fisik tidak menghilangkan martabat, agensi, ahliyyah, dan kapasitas profesional seseorang. Fakta bahwa Abdullah ibn Umm Maktum pernah bekerja sebagai muazin, imam, dan pemimpin di Madinah memperkuat keyakinan bahwa penyandang disabilitas berhak atas akses kerja, akomodasi yang layak, perubahan media, fasilitas inklusif, dan perlindungan hukum.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement##