http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/issue/feed SUHUF Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 2018-01-26T08:10:45+07:00 Ali Akbar aliakbar@kemenag.go.id Open Journal Systems <p align="left">SUHUF&nbsp;Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya (ISSN 1979-6544; e-ISSN 2548-6942) diterbitkan oleh <strong><a title="Lajnah Pentahihan Mushaf Al-Qur'an" href="http://lajnah.kemenag.go.id" target="_blank">Lajnah Pentahihan Mushaf Al-Qur'an</a></strong>, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia. Pertama kali terbit pada tahun 2008, menyebarluaskan hasil pengkajian dan penelitian mengenai Al-Qur'an, meliputi mushaf, terjemahan, tafsir, <em>rasm</em>, <em>qira'at</em>, serta ilmu-ilmu Al-Qur'an lainnya. Jurnal ini memberikan perhatian khusus terhadap kajian Al-Qur’an di Indonesia dan Asia Tenggara.</p> <p align="left">SUHUF&nbsp;terakreditasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) No. <strong>753/AU2/P2MI-LIPI/08/2016</strong>. Terbit dua kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Juni dan Desember dalam bentuk elektronik dan cetakan. SUHUF mengundang para peneliti, dosen, mahasiswa, dan pemerhati Al-Qur'an untuk menerbitkan tulisannya di sini.&nbsp;</p> http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/260 SIKAP DAN PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP PENGGUNAAN TERJEMAHAN AL-QUR’AN KEMENTERIAN AGAMA 2018-01-25T16:21:01+07:00 Jonni Syatri jonskhatib@gmail.com <p>Tulisan ini berangkat dari hasil penelitian tentang sikap dan pandangan masyarakat terhadap Terjemahan Al-Qur'an yang disusun oleh Kementrian Agama (dulu: Departemen Agama). Fokus penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana pengetahuan, pemahaman, dan sikap atau penilaian masyarakat terhadap terjemahan Al-Qur’an yang disusun Kementerian Agama. Dari penelitian, dapat diketahui bahwa label yang paling diingat masyarakat tentang terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama adalah yang diterbitkan oleh Kementerian Agama sendiri. Banyak yang tidak menyadari bahwa terjemahan Al-Qur'an yang diterbitkan swasta mayoritas adalah terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama. Dari aspek redaksi terjemahan, mayoritas masyarakat menerima penerjemahan yang disusun Kementerian Agama. Namun, di kalangan santri dan kaum terpelajar masih terdapat sikap kritis terhadap redaksi yang digunakan Kementerian Agama. Karena itulah, Kementerian Agama sering mendapat kritikan dan saran perbaikan dari berbagai kalangan untuk penyempurnaan terjemahan Al-Qur'an Kementerian Agama. Di samping itu, mayoritas masyarakat menginginkan agar buku terjemahan Al-Qur'an juga dilengkapi beberapa suplemen berupa ulumul Qur’an, catatan kaki, muqaddimah surah, glosari, daftar pustaka, dan panduan penggunaan transliterasi.</p> 2018-01-25T15:26:10+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/273 RELASI KIAI DAN PENGUASA DI SURAKARTA: Kajian Sejarah Sosial atas Naskah Mushaf Al-Qur’an Koleksi Pesantren Al-Mansur, Popongan, Klaten, Jawa Tengah 2018-01-25T16:21:01+07:00 Islah Gusmian islahgusmian@gmail.com <p>This article examines the collection of Al-Qur’an manuscripts of Popongan Pesantren, in Klaten, Central&nbsp; Java. This text was studied in the socio-political context of Surakarta in the 19<sup>th</sup> century AD. There are three main things studied, namely the art aspect (illumination and <em>khaṭṭ</em>), Al-Qur’an sciences (<em>rasm, qirā’ah </em>and <em>tajwīd</em>), and socio-political context (the possession of manuscripts and the relationship between the <em>kiai</em> and the ruler of the Surakarta palace. These three aspects were examined by the methodology of philology and Mohammad Arkoun’s historical theory. From the aspect of Al-Qur’an sciences, it is revealed in this article that the manuscripts of Popongan&nbsp; is written using <em>rasm imlā’i </em>and with <em>qirā’ah ‘Āṣim</em>. This choice is the usual copy of manuscripts in the Nusantara archipelago. From the art aspect, it is suspected, the Popongan manuscripts is from Trengganu, Malaysia. This conclusion is referred to the character of illumination and the <em>khaṭṭ</em> which are used. From the aspect of social history, the existence of the Popongan manuscripts is a trace about the role of Muslims in the Surakarta palace in the era of Pakubuwono X. It is referred to the owner of the manuscripts, Raden Mas Tumenggung (RMT) Wiryadiningrat (d. 1917). He was an official at the Surakarta palace who was also an activist of the Islamic political social movement in Surakarta.</p> <p><strong>Key words: </strong><em>mushaf, Al-Qur’an, kraton, Surakarta, </em>dan <em>Popongan </em><strong>&nbsp;</strong></p> 2018-01-25T16:11:02+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/277 Tradition of Respecting the Ancient Mushaf in Sapit Village, East Lombok 2018-01-25T16:21:02+07:00 Yusri Hamzani yusri231192@gmail.com <p>The ancient mushaf has a duality of symbol; traditional and religious symbols. Both <br>rules of religion and tradition oblige the people to respect the ancient mushaf. The <br>way to respect the Mushaf in Sapit Village is various. Starting from sitting to the <br>slaughtering a cattle before reciting and studying the mushaf. The rituals of respecting the mushaf in Sapit Village are unique. Theory of social evolution is interesting to <br>use in analyzing that reality. It is for the reason of variety of Sapit Village people and <br>its dynamics, Sapit village then has changed the way of respecting the mushaf. Before <br>1967, people of Sapit Village were embracing Islamic sect known as wetu teluwhich <br>is an acculturation between religion and tradition. Moreover, during that period, the <br>people thought the ancient mushaf to have contained a magical power and could save <br>them from disaster. However, their perception changed when Tuan Guru Zainuddin <br>Mamben came to Sapit Village and taught them theology. The people do not respect <br>the mushaf anymore the way they did before the Tuan Gurucame. Their tradition has <br>transformed into tradition known as Tokol (sitting when seeing the mushaf ). Today, <br>people have forgotten sacredness of the ancient mushaf. The development of mushaf <br>printing industry makes people equal among ancient mushaf and other printed mushaf.<br>Keywords<br>Wetu Telu Islamic Sect, respecting the ancient mushaf, transformation.</p> 2018-01-25T16:18:43+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/266 RESEPSI ESTETIS H.B. JASSIN TERHADAP AYAT METAFORA DALAM BINGKAI TEORI KRITIK SASTRA 2018-01-26T08:05:12+07:00 Ahmad Muttaqin imutaqing@gmail.com <p>It is of interest to point out that <em>Alquranul Karim Bacaan Mulia </em>(AKBM) has two sides, or &nbsp;regarded as&nbsp; dualism. One side is as quranic translation and the other hand, made in poetrical form. Some papers have discussed AKBM by using the theory of translation <em>an sich</em>. Hence, this aims to analyze how HB Jassin’s aesthetic reception to metaphorical quranic verses by other approach. Using the theory of literary criticism, it concludes that, <em>first</em>, HB Jassin gave a deep and beautiful meaning of translation of metaphorical verses by poetical way.&nbsp; <em>Second, </em>to study AKBM needs not only theory of translation, but also theory of literary.</p> <p><strong>Keywords: </strong>AKBM, Metaphorical Verses, Literary Criticism</p> 2018-01-26T08:05:12+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/194 Tafsir Aḥkām Pertama dari Pesantren: Telaah Awal atas Tafsīr Ayāt al-Aḥkām Min al-Qur`ān al-Karīm Karya Abil Fadhol as-Senory 2018-01-26T08:06:28+07:00 muhammad asif asifelfarizi@gmail.com <p>Artikel ini akan melakukan telaah awal terhadap <em>Tafsīr Ayāt al-A</em><em>ḥ</em><em>kām min al-Qur`ān al-Karīm</em> karya Abil Fadhol as-Senory. Kajian ini menjadi penting tidak saja karena terjadinya kelangkaan tafsir <em>A</em><em>ḥ</em><em>kām</em> di Indonesia, tetapi juga untuk melihat jaringan intelektual ulama pesantren Jawa abad ke dua puluh. Tafsir <em>A</em><em>ḥ</em><em>kām</em> di samping memerankan posisi penting dalam pembentukan hukum Islam, juga menjadi sumber legalitas bagi perbuatan Muslim baik secara individual maupun kolektif. Kajian ini menemukan bahwa tafsir <em>A</em><em>ḥ</em><em>kām</em> ini merupakan tafsir <em>A</em><em>ḥ</em><em>kām</em> pertama di Pesantren, bahkan mungkin di Indonesia. Tafsir ini masih berbentuk manuskrip dan diajarkan kepada murid-murid Abil Fadhol pada 1970an. Berbeda dengan Tafsir <em>A</em><em>ḥ</em><em>kām</em> di dunia Islam pada umumnya, tafsir ini tidak disusun sesuai dengan urutan mushafi, tetapi sesuai urutan bab-bab yang lazim dalam kitab Fiqh, dimulai dari bab <em>ṭ</em><em>ahārah</em>. Tafsir ini ditulis berbahasa Arab, dengan analisis Balaghah dan  Ushul Fiqh yang menarik.</p><p> </p><p>Keywords: Abil Fadhol, Tafsir <em>A</em><em>ḥ</em><em>kām</em>, manuskrip, pesantren</p> 2018-01-26T08:06:27+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/295 Rasm Usmani dalam Penulisan Al-Qur'an Braille 2018-01-26T08:07:54+07:00 Ahmad Jaeni ajaeni20@yahoo.com <p>Tulisan ini menyajikan bagaimana sebuah upaya penulisan Al-Qur’an Braille di Indonesia dilakukan dengan menggunakan rasm usmani di tengah-tengah kecenderungan penulisan Al-Qur’an Braille di dunia Islam yang masih menggunakan rasm imlai. Penggunaan rasm usmani dalam penulisan Al-Qur’an Braille selama ini masih dianggap oleh sebagian kalangan belum memungkinkan. Alasannya, selain perbedaan karakter antara tulisan Arab dan simbol Braille, penerapan rasm usmani dikuatirkan akan menyulitkan bagi para penggunanya. Di sisi lain, konsensus mayoritas ulama dengan tegas menyatakan bahwa penulisan Al-Qur’an dengan menggunakan rasm usmani adalah sebuah keharusan. Berdasarkan hasil kajian terhadap Mushaf Al-Qur’an Standar Braille Indonesia, sesungguhnya penerapan rasm usmani dalam penulisan Al-Qur’an Braille dapat dilakukan dengan model adaptif-kombinatif, yaitu mengupayakan sedapat mungkin penulisan Al-Qur’an Braille berdasarkan kaidah rasm usmani, namun jika hasilnya menyulitkan bagi penggunanya, maka ditulis dengan rasm imla’i.</p> <p>Kata kunci: rasm usmani, Al-Qur’an Braille, Mushaf Al-Qur’an Standar Braille. &nbsp;&nbsp;&nbsp;</p> 2018-01-26T08:07:54+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/291 Rasm Usmani, mushaf Standar Indo Perbandingan Rasm pada Mushaf Standar Indonesia, Bombay dan Madinah 2018-01-26T08:09:18+07:00 Abdul Hakim bacicir@yahoo.com <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Sejak tahun 1984, melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) No. 25, Indonesia memiliki Mushaf Al-Qur’an Standar. Mushaf standar memiliki tiga varian yaitu Mushaf Standar Indonesia Usmani, Mushaf Bahriyah dan Mushaf Braille. Ketiganya dijadikan acuan bagi penerbitan dan peredaran Al-Qur’an di Indonesia hingga sekarang. Realitanya, masyarakat Indonesia tidak semuanya menggunakan mushaf Standar. Ada yang menggunakan mushaf terbitan India, Mesir, Saudi Arabia, Lebanon dan Negara kawasan Timur Tengah lainnya. Satu dekade belakangan, mulai muncul klaim di masyarakat bahwa mushaf mereka ‘paling usmani’ dari pada mushaf lainnya. Hal ini mengaburkan dan menyederhanakan ‘rasm usmani’.</p> <p>Tulisan ini mengkaji perbandingan 3 mushaf: Standar Indonesia, Bombay-Pakistan dan Madinah. Sampel yang diambil yaitu juz 7, juz 14 dan juz 24. Perbandingan dilakukan pada kalimat yang mengandung kaidah <em>¥</em><em>a</em><em>§</em><em>f al-</em><em>¥</em><em>uruf</em>. Kajian ini bersifat deskriptif analitik. Penelitian ini menemukan bahwa mushaf Indonesia, dalam aspek rasm kaidah <em>¥</em><em>a</em><em>§</em><em>f al-</em><em>¥</em><em>uruf</em>, memiliki kedekatan dengan mushaf Bombay. Hal ini dapat dipastikan karena memiliki rujukan yang sama yaitu mazhad ad-Dāni. Sedangkan mushaf Madinah merujuk pada mazhab Abu Dāwūd. Selain itu, secara sosilogolis, mushaf Bombay dijadikan salah satu rujukan saat penyalinan mushaf Indonesia.</p> 2018-01-26T08:09:18+07:00 ##submission.copyrightStatement## http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/213 Kajian Ulumul Qur'an dalam Mushaf Kuno Makassar 2018-01-26T08:10:45+07:00 Zarkasi Afif zarkasi.afif@gmail.com Aspek <em>rasm,</em> tanda <em>qir±'at, </em>tanda baca, tanda <em>waqaf,</em> dan jumlah ayat merupakan bagian <em>‘ulµmul Qur'an</em> yang tidak pernah kering untuk dikaji dan diteliti, serta menjadi karakteristik dan keistimewaan sendiri dari masing-masing mushaf tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengungkap aspek-aspek tersebut secara detail, sehingga dapat menghadirkan gambaran utuh tentang mushaf kuno tersebut. 2018-01-26T08:10:45+07:00 ##submission.copyrightStatement##